Beirut Kacau, Ratusan Warga Lari Akibat Ancaman Netanyahu ke Lebanon

Ringkasan Berita:
  • Ratusan penduduk Lebanon memulai pengungsian dari bagian Selatan Beirut setelah Israel mengumumkan rencana operasi militer terhadap kawasan Dahiyeh, yang merupakan pusat utama Hizbullah.
  • Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, menyatakan bahwa "tidak akan pernah ada perdamaian di Beirut" selama serangan Hizbullah terhadap daerah utara Israel tetap berlangsung.
  • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan kesal kepada Perdana Menteri Israel, menganggap tindakan militer negara tersebut terlalu keras.

ANTS– Pergeseran penduduk yang signifikan dimulai di daerah Dahiyeh, bagian selatan Ibu Kota Libanon, Beirut, setelah pemerintah Israel mengeluarkan perintah penyerbuan militer terhadap area itu.

Ratusan penduduk dilaporkan mengisi jalanan utama guna meninggalkan kawasan yang merupakan daerah kekuatan besar bagi kelompok Hizbullah tersebut.

Keadaan yang sama juga terjadi di Bagian Selatan Beirut, di mana beberapa penduduk mencoba melarikan diri sambil membawa barang-barang miliknya dan meninggalkan rumah mereka sejak Israel mengumumkan rencana peningkatan ketegangan pada hari Senin (1/6/2026) pukul 07.00 WIB.

"Segera setelah pemerintah Israel mengeluarkan instruksi penyerbuan, penduduk mulai membawa segala sesuatu yang dapat mereka bawa dan meninggalkan area tersebut," kata jurnalis Al Jazeera, Zeina Khodr, yang memberikan laporan langsung dari bagian selatan Beirut.

Namun keadaan pengungsi dianggap makin memburuk lantaran mayoritas lokasi pengungsian yang dinaungi oleh pemerintah Lebanon sudah tidak memiliki ruang lagi.

Banyak penduduk akhirnya memutuskan tetap berada di dalam mobil mereka sembari menantikan perubahan kondisi keamanan.

Beberapa keluarga harus menginap di dalam kendaraan mereka atau di tepi jalanan lantaran tidak ada lokasi lain yang bisa menjadi tempat berlindung yang aman.

Israel Mengancam Tidak Akan Ada Ketenangan di Ibukota Lebanon Israeil Memperingatkan Bahwa Tidak Akan Pernah Terjadi Keamanan di Beirut Negara Israel Beri Peringatan bahwa Tidak akan Ada Damai di Kota Beirut Pihak Israel Menyatakan Tidak Akan Ada Kedamaian di Ibu Kota Lebanon Peringatan dari Israiel: Tidak Ada Kesempatan untuk Tenang di Beirut Tindakan yang Diambil oleh Negara Israel Membuat Situasi di Beirut Tidak Stabil Kekhawatiran terhadap Ketenangan di Beirut Semakin Tinggi karena Ancaman Israel Ancaman Israel Memicu Ketegangan di Wilayah Beirut Banyak Orang Khawatir tentang Kenyamanan Hidup di Beirut Akibat ancaman Ini Situasi dalam Negeri Lebanon Mulai Dikhawatirkan Sejak Adanya Pengumuman dari Israel

Kekacauan ini muncul beberapa saat setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Israel tetap akan memperkuat tekanan militer terhadap Hizbullah jika serangan ke daerah utara Israel belum berakhir.

Di dalam pernyataannya, Katz menyampaikan bahwa "tidak akan ada keamanan di Beirut" selama Hizbullah tetap melakukan penyerangan melewati batas wilayah.

Israil juga merencanakan perluasan pengawasan keamanan di kawasan Sungai Litani, bagian selatan Libanon.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggambarkan operasi itu sebagai "perubahan besar" dalam perang militer negara tersebut melawan Hizbullah.

Dia menyatakan bahwa Israel akan memperkuat dominasi militer mereka terhadap daerah-daerah yang dianggap masuk dalam lingkup pengaruh Hizbullah.

Di antaranya adalah Kastil Beaufort atau Qalaat al-Shaqif di wilayah Selatan Lebanon, sebuah situs sejarah yang berada di bagian utara Sungai Litani dan merupakan titik paling jauh yang berhasil dicapai oleh pasukan Israel masuk ke Lebanon dalam beberapa tahun belakangan ini.

Pihak pemerintah Israel merasa bahwa peningkatan tekanan militer diperlukan agar Hizbullah berhenti melakukan serangan serta menjauhi kawasan perbatasan.

Namun, tindakan ini menimbulkan kecemasan global karena khawatir akan memperbesar perang dan menggambarkan situasi kemanusiaan yang semakin parah di Lebanon.

Trump Marah Karena Serangan Israel terhadap Libanon

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pernah menunjukkan kemarahan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, setelah Israe memperbesar intensitas serangannya terhadap Lebanon.

Dalam panggilan telepon hari Senin (1/6/2026), Trump menunjukkan amarahnya dengan bertanya keras kepada Netanyahu, "Apa yang kamu lakukan?" mengkritik tindakan militer Israel yang dinilai terlalu provokatif.

Di dalam pembicaraan itu, Trump memberi peringatan kepada Netanyahu bahwa tindakan militer yang berlebihan justru bisa menyebabkan Israel menjadi lebih terasing di pandangan masyarakat global.

Washington mengkhawatirkan meningkatnya konflik bisa menimbulkan tekanan internasional yang lebih berat terhadap Israel serta memperparah ketidakstabilan di wilayah tersebut.

Selain aspek militer, Pemimpin Gedung Putih juga khawatir perang di Lebanon bisa menghambat upaya diplomatik yang sedang dikembangkan oleh Amerika Serikat terhadap Iran.

Sebelum panggilan telepon tersebut berlangsung, Iran dikenal telah memperingatkan bahwa mereka akan menghentikan pembicaraan dengan Washington karena tindakan militer yang dilakukan oleh Israel di Lebanon.

Pemerintah Amerika Serikat mengkhawatirkan perluasan konflik yang bisa menyebabkan ketidakstabilan tambahan di kawasan Teluk dan mempersulit hubungan diplomasi antara AS dengan negara-negara setempat.

Sampai saat ini, pemerintah Israel masih belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai laporan kekesalan Trump.

Namun setelah percakapan telefon terjadi, Israel pada akhirnya menunda rencana penyerbuan besar-besaran ke Ibu Kota Beirut yang sebelumnya telah menyebabkan rasa cemas di kalangan penduduk Libanon serta mengundang perhatian global.

(ANTS/Namira)

Posting Komentar

0 Komentar