Kenaikan Harga Pertamax: Jaga Rupiah & Kurangi Beban APBN

Ants.CO.ID, JAKARTA — Pakar kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata berpendapat bahwa peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak mendapatkan subsidi dimaksudkan untuk mempertahankan kurs mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, sekaligus mencegah beban anggaran negara. Harga Pertamax diumumkan meningkat mulai tanggal 10 Juni 2026 menjadi Rp 16.250 per liter.

"Saya melihat urgensi peningkatan harga bahan bakar minyak ini berkaitan dengan strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas kurs mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan sekaligus mengurangi tekanan pada anggaran pendapatan negara yang muncul akibat melemahnya nilai rupiah," kata Bonti dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Dia menjelaskan bahwa harga Pertamax sebagai bahan bakar tidak bersubsidi secara umum sesuai dengan perubahan harga minyak global serta kurs mata uang rupiah.

Jika dua faktor tersebut terus-menerus menghadapi tekanan selama periode yang panjang, pemerintah akhirnya perlu membuat penyesuaian untuk mencegah timbulnya beban keuangan yang semakin berat.

Bonti menghargai upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga selama beberapa bulan belakangan, yang dinilainya membantu memperkuat kondisi ekonomi dan mental masyarakat. Akan tetapi, ia berpendapat bahwa semakin lama kenaikan harga tertunda, maka akan semakin berat beban yang dialami oleh negara serta perusahaan energi.

Dia menyampaikan bahwa menjaga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tidak subsidi di bawah tingkat ekonomis dalam jangka panjang dapat memberatkan alur kas serta meningkatkan permintaan compensasi energi. Oleh karena itu, penyesuaian harga dianggap sebagai tindakan yang masuk akal guna menjaga kondisi keuangan negara.

Dengan mengatur harga, pemerintah mengurangi risiko kenaikan biaya kompensasi listrik. Ini merupakan langkah agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat terus berfokus pada pendanaan kebutuhan utama lainnya," ujar Bonti.

Dia menuturkan, risiko gangguan sosial akibat naiknya harga Pertamax cenderung lebih dapat dikontrol jika dibandingkan dengan situasi di mana pemerintah meningkatkan tarif BBM subsidi. Hal ini karena pengguna Pertamax kebanyakan merupakan anggota masyarakat yang mempunyai berbagai alternatif untuk mengelola cara konsumsinya terhadap energi.

Pernyataan serupa diungkapkan oleh Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo. Ia menyebut bahwa organisasinya memahami bahwa harga bahan bakar minyak yang tidak subsidi dipengaruhi oleh perubahan harga minyak global serta fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Rio juga mengharapkan kenaikan harga Pertamax disertai dengan perbaikan mutu layanan yang terlihat jelas bagi para pelanggan. Baginya, masyarakat pantas mendapatkan kualitas barang serta pelayanan sesuai dengan biaya yang mereka keluarkan.

Ia menyatakan bahwa para pelanggan memiliki hak untuk memperoleh jaminan mutu bensin, kelancaran akses, ketangguhan pendistribusian, presisi pengukuran, serta layanan yang semakin meningkat di semua pompa bensin.

"Para konsumen tidak boleh diharuskan menerima kenaikan tarif tanpa mendapatkan tambahan nilai serta peningkatan mutu pelayanan yang setara," ujar Rio.

Posting Komentar

0 Komentar