Ringkasan Berita:
- Kepala Distrik Seram Utara Ahmad Ohorella mengajak para Raja beserta masyarakat adat untuk melawan dan mempertahankan lahan yang dikhawatirkan telah direbut oleh Badan Taman Nasional Manusela.
- Permohonan tersebut diungkapkan pada pertemuan yang dihadiri oleh para pemimpin daerah dan Forkopimcam, hari Rabu (10/6/2026).
- Tim Smart Patrol BTN Manusela telah menentukan titik koordinat ke-136 yang jaraknya sekitar 15 menit perjalanan atau kisaran antara 2 hingga 2,5 kilometer dari permukiman penduduk Manusela, yaitu persis di dekat Kali Ilepa. Penandaan lokasi tersebut dilakukan pada bulan September tahun 2025.
Liputan Wartawan Ants, Silmi Sirati Suailo
MALTENG,Ants Ketegangan terkait perbatasan Taman Nasional Manusela akhir-akhir ini mendapat perhatian masyarakat setelah komunitas adat Manusela dan Maraina di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah menggelar demonstrasi penolakan terhadap pemasangan tanda batas taman tersebut serta wilayah hutan.
Baru-baru ini terungkap bahwa Tim Smart Patrol BTN Manusela melakukan penandaan titik koordinat 136 yang berada sejauh 15 menit perjalanan atau kisaran jarak antara 2 hingga 2,5 kilometer dari permukiman penduduk Manusela, secara langsung berada di dekat Sungai Ilepa. Penandaan tersebut dilakukan pada bulan September tahun 2025.
Peristiwa yang terjadi delapan bulan silam mengenai pemancangan koordinat 136 oleh Tim Smart Patrol BTN Manusela tanpa adanya sosialisasi tentang maksud dan tujuannya.
Karena itu, penentuan titik koordinat 136 menimbulkan kecemasan bagi masyarakat adat Manusela. Sebab, lokasi koordinat 136 berada tepat di kawasan hutan sagu, lahan pertanian penduduk desa, dan juga alur sungai yang menjadi bagian dari wilayah Manusela.
Terhadap kejadian tersebut, masyarakat Adat Manusela melakukan pengaduan, aksi penolakan dilakukan di halaman Negeri Manusela. Spanduk yang berisi pernyataan menolak dipajang oleh warga setempat.
Di dalam ajakan protes tersebut, warga secara masif menyatakan penolakan terhadap titik koordinat 136 yang terletak di Wilayah Manusela.
Aksi protes yang kedua dilakukan oleh masyarakat adat Maraina, sesuai dengan perayaan Hari Lahir Pancasila pada hari Senin tanggal 1 Juni 2026, mereka menyelenggarakan demonstrasi menentang pengambilan keputusan tentang pembatas wilayah Taman Nasional Manusela.
Sejak tahun 2022, Badan Pengelola Konservasi Wilayah Hutan (BPKH) telah menentukan bahwa Taman Nasional Manusela terletak hanya berjarak 500 meter dari permukiman Negeri Maraina.
Di tengah demonstrasi, warga memajang beberapa baliho dan poster yang menyampaikan penolakan terhadap penerbitan batas wilayah yang diumumkan oleh Badan Pengelola Konservasi Wilayah Hutan (BPKH) sejak tahun 2022.
Putra Adat Maraina, Arter Ropen, menyampaikan bahwa tindakan ini adalah wujud ketidakpuasan masyarakat akibat merasa selama ini tidak diajak serta dalam pengambilan keputusan tentang penentuan batas area yang secara langsung memengaruhi wilayah budaya mereka.
Respons Pemkot Seram Utara
Terkait perdebatan tersebut, Kecamatan Seram Utara, Ahmad S. Ohorella mengundang para Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) atau Raja-Raja yang berada di daerah dataran tinggi Seram Utara, pada hari Rabu (10/6/2026).
Undangan tersebut disampaikan oleh Kepala Desa, Ahmad Ohorella, yang bekerja sama dengan para Raja dan Forkopimcam. Hal ini dilakukan agar dapat memperjelas prasangka negatif yang menurutnya muncul dalam lingkungan Gerakan Mahasiswa Pegunungan Seram Utara.
Pada pertemuan tersebut, Kepala Desa mengajak seluruh Raja untuk bekerja sama dengan masyarakat adat, serta jangan sampai mereka bertempur secara mandiri.
"Saya menekankan kepada para raja bahwa pemerintah daerah harus memperhatikan hal ini, jangan biarkan warga bertempur sendirian. Karena jika kasus semacam ini menjadi viral, maka akan segera hilang begitu saja," kata Kepala Desa ketika diwawancarai oleh TribunAmbon melalui pesan telepon pada hari Rabu (10/6/2026) malam.
Disebutkan bahwa panggilan para raja bertujuan untuk mengkoordinasikan serta merespons permintaan masyarakat.
"Pernyataan saudara-saudari dari Gerakan Mahasiswa sebelumnya kurang tepat. Ini adalah pertemuan koordinasi lantaran terdapat masalah di setiap daerah, sehingga saya mengundang 12 wilayah tetangga guna menanggapi aspirasi rakyat," ujar Ohorella.
Bertemu dengan raja-raja dari 12 wilayah sekitar Taman Nasional Manusela diharapkan dapat membuat permasalahan yang dialami oleh masyarakat tidak hanya dibahas melalui media sosial atau liputan pers.
"Maka Beta ingin mengajak mereka bertemu sehingga masyarakat memiliki tuntutan yang tidak hanya terbatas pada media sosial atau internet," kata Kepala Desa.
Dalam pertemuan tersebut muncul sebuah permintaan tertulis yang secara formal mengungkapkan aspirasi Masyarakat Adat terkait batas wilayah Taman Nasional Manusela maupun kawasan hutan.
"Tetapi terdapat permintaan tertulis dari pihak daerah yang menginginkan keterlibatan (masyarakat) dalam memperhatikan batasan wilayah mereka. Terdapat sebuah surat yang ditandatangani oleh para tokoh adat, pemuda serta tokoh Saniri daerah tersebut, sehingga diharapkan ke depannya Pemneg dapat bekerja sama secara koordinasi agar nantinya Pemneg bersikap tidak sampai meninggalkan masyarakat sendiri," ujar Ohorella.
Laporan hasil pertemuan sudah dikirim kepada para Raja. Para Raja diminta agar mengajak partisipasi masyarakat adat serta pemangku adat beserta saniri negeri dalam menyampaikan aspirasi yang selanjutnya akan diajukan kepada Badan Pengelola Kawasan Hutan (BPH) dan BTN Manusela.
"Hasil ringkasan pertemuan yang telah saya kirim akan segera disampaikan kepada masyarakat adat setempat serta mengajak mereka memberikan masukan terkait tuntutan yang akan diajukan oleh BPKH dan Balai Taman Nasional Manusela," tambahnya.
Surat pernyataan ini kelak diisi oleh pihak Pemerintahan Daerah serta semua komponen masyarakat adat.
"Supaya 12 provinsi dikumpulkan dan dibuatkan surat tulisan yang ditandatangani oleh 12 Perwakilan serta perwakilan masyarakat adat, kemudian disampaikan secara resmi," tambahnya.
Di samping itu, rapat yang diikuti oleh Kapolsek serta Danramil tersebut juga menekankan pentingnya keamanan dan ketertiban masyarakat.
"Tadi saya bersama Kapolsek serta Danramil menekankan pentingnya keamanan dan ketertiban masyarakat, baik kepada Kepala Desa maupun warga untuk senantiasa menjunjung tinggi Kamtibmas," ujar Camat. (*)
0 Komentar