Pendekatan struktural fungsional adalah salah satu teori dalam sosiologi yang berfokus pada bagaimana elemen-elemen dalam masyarakat berinteraksi dan berfungsi untuk menjaga stabilitas sosial. Pendekatan ini terutama dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Émile Durkheim, Talcott Parsons, dan Robert K. Merton. Pendekatan ini menganggap bahwa setiap bagian dalam masyarakat memiliki fungsi tertentu yang membantu menjaga keseimbangan dan keteraturan sosial.
Namun, dalam pendekatan struktural fungsional ini, ada beberapa kenyataan atau aspek yang cenderung diabaikan atau tidak mendapat perhatian yang cukup, di antaranya:
1. Ketidaksetaraan Sosial
Pendekatan struktural fungsional sering kali mengabaikan ketidaksetaraan sosial yang ada dalam masyarakat. Pendekatan ini cenderung berfokus pada bagaimana elemen-elemen masyarakat bekerja sama untuk menciptakan stabilitas, tanpa cukup memperhatikan bagaimana ketidaksetaraan dalam hal kelas sosial, gender, ras, dan lainnya dapat memengaruhi hubungan antar individu dan kelompok. Padahal, ketidaksetaraan ini sering kali berperan besar dalam menciptakan ketegangan dan konflik sosial.
2. Perubahan Sosial
Struktural fungsional lebih menekankan pada stabilitas dan keseimbangan dalam masyarakat, sementara aspek perubahan sosial cenderung diabaikan. Pendekatan ini sering menganggap bahwa masyarakat berfungsi dengan baik ketika semuanya berada dalam kondisi seimbang, tanpa cukup menyoroti bagaimana faktor-faktor eksternal, seperti perkembangan teknologi, perubahan budaya, dan gerakan sosial, dapat mengganggu atau mengubah struktur sosial yang ada.
3. Konflik dan Ketegangan
Pendekatan ini lebih menekankan pada konsensus dan kerjasama, sementara mengabaikan atau meremehkan peran konflik dalam masyarakat. Padahal, konflik sosial (baik antar individu maupun kelompok) sering kali menjadi pendorong perubahan dalam masyarakat. Misalnya, perjuangan kelas atau konflik antara kelompok etnis atau agama yang dapat menyebabkan perubahan struktural.
4. Agensi Individu
Dalam perspektif struktural fungsional, ada kecenderungan untuk lebih menekankan pada peran struktur sosial yang lebih besar (misalnya institusi dan norma) dalam menentukan perilaku individu, dan ini sering mengabaikan kemampuan individu untuk membuat keputusan dan bertindak secara bebas (agensi). Agensi individu merujuk pada kemampuan individu untuk mempengaruhi dan mengubah struktur sosial melalui pilihan mereka.
5. Masalah yang Ditimbulkan oleh Struktur Sosial
Pendekatan struktural fungsional sering menganggap bahwa semua struktur sosial, meskipun kadang tidak sempurna, pada akhirnya memiliki fungsi positif dalam menjaga stabilitas sosial. Ini dapat mengabaikan kenyataan bahwa beberapa struktur sosial dapat menyebabkan masalah, seperti ketidakadilan, diskriminasi, atau marginalisasi kelompok tertentu.
6. Fungsi Negatif dari Elemen Sosial
Pendekatan ini lebih banyak menyoroti fungsi positif dari berbagai elemen sosial, seperti norma, lembaga, atau peran sosial dalam menjaga stabilitas. Namun, sering kali diabaikan bahwa beberapa elemen tersebut juga dapat memiliki dampak negatif. Misalnya, lembaga pendidikan yang seharusnya berfungsi untuk mendidik, tetapi terkadang justru memperkuat stratifikasi sosial atau ketidaksetaraan.
7. Kekuasaan dan Dominasi
Pendekatan struktural fungsional jarang mengkaji secara mendalam tentang bagaimana kekuasaan dan dominasi berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan struktur sosial. Misalnya, bagaimana kelompok-kelompok dominan menggunakan sistem sosial yang ada untuk mempertahankan posisi mereka, atau bagaimana hubungan kekuasaan dapat memengaruhi distribusi sumber daya dalam masyarakat.
Secara keseluruhan, meskipun pendekatan struktural fungsional memberikan wawasan tentang bagaimana elemen-elemen dalam masyarakat bekerja sama untuk menciptakan stabilitas sosial, ia cenderung mengabaikan dinamika yang lebih kompleks terkait ketidaksetaraan, konflik, perubahan sosial, dan ketegangan yang ada dalam masyarakat.
Atau:
2.REAKSI suatu SISTEM SOSIAL terhadap PERUBAHAN yang datang dari luar (extra systemic change) tidak selalu bersifat Adjustive/tampak
3.Suatu SISTEM SOSIAL dalam waktu yang panjang dapat mengalami KONFLIK SOSIAL yang bersifat VISIOUS CIRCLE
4.Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi secara GRADUAL melalui penyesuaian, tetapi juga dapat terjadi secara REVOLUSIONER
AKIBAT HETEROGENITAS MASYARAKAT
0 Komentar