Masyarakat menjadi RAWAN KONFLIK TEORI KONFLIK DIALEKTIKA

MEMANDANG BAHWA PERUBAHAN SOSIAL TIDAK TERJADI MELALUI PROSES PENYESUAIAN NILAI-NILAI YANG MEMBAWA PERUBAHAN, TETAPI TERJADI AKIBAT ADANYA KONFLIK YANG MENGHASILKAN KOMPROMI-KOMPROMI YANG BERBEDA DENGAN KONDISI SEMULA
Tokoh: DAHRENDORF

Teori Konflik Dialektika adalah pendekatan dalam sosiologi yang menganggap bahwa konflik sosial adalah kekuatan yang penting dalam perubahan dan perkembangan masyarakat. Pendekatan ini sering dikaitkan dengan pemikiran Karl Marx, yang melihat konflik sebagai hasil dari ketegangan antara kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan ekonomi yang berbeda, seperti antara kelas pekerja (proletariat) dan pemilik modal (borjuasi). Namun, konsep dialektika dalam konteks teori konflik lebih luas dan juga dapat diterapkan pada berbagai bentuk konflik dalam masyarakat, termasuk yang bersifat sosial, politik, dan budaya.

Dalam perspektif ini, masyarakat menjadi rawan konflik karena ketidaksetaraan yang ada dalam struktur sosial, ekonomi, dan politik yang tidak pernah sepenuhnya terselesaikan. Konflik dipandang sebagai bagian dari dinamika yang tak terhindarkan dalam masyarakat, yang muncul karena adanya perbedaan kepentingan, nilai, dan sumber daya antara kelompok-kelompok sosial.

1. Konflik sebagai Bagian dari Dialektika Sejarah

Dialektika adalah konsep yang menggambarkan bagaimana perkembangan ide atau kondisi terjadi melalui proses pertentangan dan rekonsiliasi antara dua kekuatan yang bertentangan. Dalam hal ini, konflik sosial dipandang sebagai hasil dari ketegangan antara dua atau lebih kelompok yang memiliki kepentingan yang berlawanan, yang akhirnya menghasilkan perubahan sosial. Sebagai contoh, konflik antara kelas pekerja dan pemilik modal dalam masyarakat kapitalis dapat menghasilkan perubahan dalam struktur ekonomi atau sistem produksi.

Proses dialektik ini bisa digambarkan dalam tiga tahap:

  • Teza: Keadaan atau kondisi sosial yang ada pada saat ini.
  • Antiteza: Kontradiksi atau konflik yang muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap keadaan yang ada.
  • Sintesis: Resolusi atau perubahan yang terjadi akibat konflik tersebut, yang menciptakan kondisi baru yang bisa berbeda dari kondisi awal.

Dengan kata lain, masyarakat menjadi rawan konflik karena ketegangan yang muncul antara kondisi yang ada (teza) dan kontradiksi-kontradiksi yang tidak dapat dipertahankan atau diatasi (antiteza). Konflik ini akhirnya menghasilkan perubahan atau transformasi sosial (sintesis).

2. Ketidaksetaraan sebagai Sumber Konflik

Salah satu argumen utama dalam teori konflik adalah bahwa ketidaksetaraan sosial, ekonomi, dan politik adalah sumber utama konflik dalam masyarakat. Ketidaksetaraan ini tercipta melalui distribusi sumber daya yang tidak merata, di mana sebagian besar sumber daya dikendalikan oleh kelompok atau individu tertentu, sementara kelompok lain terpinggirkan. Ketidaksetaraan ini menciptakan ketegangan antara kelas-kelas sosial atau kelompok-kelompok lain yang terlibat dalam perjuangan untuk mendapatkan akses yang lebih besar terhadap kekuasaan, kekayaan, dan kesempatan.

3. Konflik Kelas dalam Masyarakat Kapitalis

Dalam kerangka pemikiran Karl Marx, konflik kelas adalah salah satu bentuk utama dari konflik sosial. Dalam masyarakat kapitalis, perbedaan antara kelas pekerja (yang tidak memiliki alat produksi) dan kelas borjuasi (yang menguasai alat produksi) menciptakan ketegangan yang mendalam. Para pekerja merasa tertindas dan dieksploitasi, sementara pemilik modal berusaha mempertahankan status quo untuk mempertahankan keuntungan mereka. Konflik ini dapat memicu perubahan struktural yang berpotensi mengubah sistem ekonomi, politik, atau sosial yang ada.

4. Peran Ideologi dalam Konflik

Teori konflik dialektika juga memperhatikan bagaimana ideologi—sistem pemikiran yang mendukung struktur sosial yang ada—dapat memperburuk atau memperpanjang konflik. Dalam masyarakat yang sangat terstruktur secara hierarkis, ideologi sering kali digunakan untuk membenarkan ketidaksetaraan dan penindasan, dengan cara meyakinkan kelompok yang lebih rendah untuk menerima posisi mereka dalam hierarki sosial. Misalnya, ideologi neoliberal sering kali digunakan untuk membenarkan sistem kapitalis yang tidak merata.

5. Perubahan Sosial dan Revolusi

Teori konflik dialektika menekankan bahwa konflik tidak hanya sekadar ketegangan yang dapat diselesaikan melalui kompromi, tetapi sering kali berujung pada perubahan sosial yang mendalam, bahkan revolusi. Ketegangan antara kelompok-kelompok yang saling bertentangan dapat menghasilkan perubahan dalam struktur sosial atau politik, seperti yang terlihat dalam berbagai revolusi sejarah—misalnya, Revolusi Industri, Revolusi Prancis, atau Revolusi Bolshevik di Rusia.

6. Masyarakat Rawan Konflik

Masyarakat menjadi rawan konflik dalam kerangka teori ini karena adanya struktur sosial yang tidak seimbang dan ketidaksetaraan yang terpendam. Ketidakadilan dalam distribusi kekuasaan, kekayaan, dan hak-hak politik akan terus menghasilkan ketegangan yang bisa berubah menjadi konflik terbuka. Selain itu, perubahan dalam teknologi, ekonomi, atau budaya dapat memperburuk ketegangan ini jika tidak diikuti dengan perubahan yang adil dalam struktur sosial yang ada. Ketegangan antara kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan kelompok-kelompok dominan dapat menciptakan ketidakstabilan, yang jika tidak dikelola dengan baik, bisa mengarah pada konflik sosial yang meluas.

7. Fungsi Konflik dalam Masyarakat

Walaupun masyarakat menjadi rawan konflik, dalam pandangan teori konflik dialektika, konflik sosial memiliki fungsi positif dalam mendorong perubahan. Konflik adalah mekanisme yang dapat memaksa masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi dan sosial. Misalnya, konflik antara kelas pekerja dan majikan dalam suatu sistem kapitalis bisa mendorong perubahan dalam kebijakan kesejahteraan atau hak-hak pekerja.

Kesimpulan

Dalam kerangka teori konflik dialektika, masyarakat dianggap sebagai sistem yang selalu rentan terhadap konflik karena adanya ketidaksetaraan dan ketegangan antara kelompok-kelompok dengan kepentingan yang bertentangan. Meskipun konflik dapat menciptakan ketegangan dan ketidakstabilan, hal ini juga dianggap sebagai kekuatan pendorong perubahan sosial yang penting. Masyarakat yang tidak mampu mengatasi ketidaksetaraan dan konflik yang ada cenderung menjadi rawan terhadap gejolak sosial, dan bisa mengalami transformasi besar yang mengubah struktur sosial, politik, atau ekonomi yang ada.

Posting Komentar

0 Komentar