ASUMSI DASAR TEORI KONFLIK DIALEKTIKA

1.PERUBAHAN SOSIAL merupakan gejala yang melekat di setiap masyarakat
2.KONFLIK dalah gejala yang melekat pada setiap masyarakat
3.SETIAP UNSUR didalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya DISINTEGRASI dan PERUBAHAN-PERUBAHAN SOSIAL
4.Setiap masyarakat terintegrasi diatas PENGUASAAN atau DOMINASI oleh sejumlah orang atas sejumlah orang-orang yang lain
Menurut penganut teori KONFLIK:
KONFLIK TIDAK BISA DILENYAPKAN, TETAPI HANYA BISA DI KENDALIKAN
AGAR KONFLIK LATENT TIDAK MENJADI MANIFEST DALAM BENTUK VIOLENCE/KEKERASAN

Teori Konflik Dialektika, yang banyak dikaitkan dengan pemikiran Karl Marx, melihat konflik sebagai elemen penting dalam dinamika sosial yang mendorong perubahan dan perkembangan dalam masyarakat. Secara umum, teori ini menganggap bahwa konflik tidak hanya merupakan masalah negatif yang harus dihindari, tetapi juga merupakan pendorong utama perubahan sosial. Berikut adalah asumsi dasar yang mendasari Teori Konflik Dialektika:

1. Konflik adalah Bagian Tak Terpisahkan dari Masyarakat

Salah satu asumsi dasar dari teori konflik dialektika adalah bahwa konflik sosial adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Konflik tidak bisa dihindari karena selalu ada ketegangan antara kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan yang berbeda, terutama dalam hal distribusi sumber daya dan kekuasaan. Setiap masyarakat, terlepas dari bentuk dan strukturnya, akan selalu mengalami konflik antara individu atau kelompok yang memiliki tujuan dan kepentingan yang bertentangan.

2. Ketidaksetaraan Sosial Menjadi Sumber Konflik

Teori ini berasumsi bahwa ketidaksetaraan dalam distribusi kekayaan, kekuasaan, dan status adalah penyebab utama dari konflik sosial. Ketidaksetaraan ini tercipta karena adanya perbedaan akses terhadap sumber daya penting dalam masyarakat. Dalam masyarakat kapitalis, misalnya, terdapat ketidaksetaraan antara kelas pekerja (proletariat) yang hanya memiliki tenaga kerja dan kelas pemilik modal (borjuasi) yang menguasai alat produksi. Ketegangan antara kelas-kelas ini sering kali menjadi sumber konflik yang mendalam, baik dalam bentuk perjuangan kelas, maupun dalam bentuk perjuangan politik dan ekonomi.

3. Struktur Sosial Tertentu Mendorong Ketegangan

Teori konflik dialektika juga berasumsi bahwa struktur sosial tertentu berkontribusi pada munculnya ketegangan dan konflik. Struktur sosial dalam masyarakat tidak bersifat netral, tetapi sering kali menguntungkan kelompok-kelompok tertentu dan merugikan kelompok lainnya. Misalnya, dalam masyarakat kapitalis, struktur ekonomi dan sosial lebih mendukung kepentingan pemilik modal dan kelompok dominan lainnya, sementara kelompok-kelompok subordinat, seperti pekerja dan kaum miskin, terpinggirkan dan dieksploitasi. Ketidakadilan yang terjadi dalam struktur sosial ini menciptakan ketegangan yang memicu konflik.

4. Perubahan Sosial adalah Hasil dari Konflik

Asumsi berikutnya adalah bahwa konflik sosial berfungsi sebagai pendorong perubahan sosial. Dalam pandangan teori konflik dialektika, perubahan tidak terjadi karena konsensus atau kesepakatan, tetapi justru karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang saling berkonflik. Proses dialektika (kontradiksi antara teza dan antiteza) menciptakan ketegangan yang akhirnya menghasilkan sintesis atau perubahan dalam struktur sosial. Sebagai contoh, perjuangan kelas antara pekerja dan pengusaha dalam masyarakat kapitalis dapat berujung pada perubahan dalam struktur ekonomi dan politik, seperti reformasi hak pekerja atau bahkan revolusi.

5. Kontradiksi sebagai Dasar Dialektika

Teori konflik dialektika didasarkan pada proses dialektika, yang melihat perubahan terjadi melalui kontradiksi dan pertentangan. Dialektika adalah proses perubahan yang terjadi akibat dari adanya konflik atau kontradiksi antara dua elemen yang saling bertentangan (misalnya, kepentingan kelas pekerja vs kelas pemilik modal). Dalam pandangan ini, konflik dianggap sebagai bagian dari dinamika masyarakat yang mendorong tercapainya perubahan yang lebih tinggi (sintesis) melalui penyelesaian kontradiksi yang ada.

6. Pentingnya Kesadaran Kelas

Dalam teori konflik dialektika Marxian, terdapat asumsi bahwa kesadaran kelas—terutama dalam konteks kelas pekerja (proletariat)—adalah hal yang penting untuk mendorong perubahan sosial. Kelas yang terdominasi perlu menyadari ketidakadilan dan eksploitasi yang mereka alami agar dapat mengorganisir diri dan berjuang untuk menggulingkan struktur kekuasaan yang ada. Tanpa kesadaran kelas yang cukup, kelompok-kelompok tertindas akan terus berada dalam posisi subordinat dan tidak mampu menantang sistem yang ada.

7. Kekuasaan dan Dominasi

Teori konflik dialektika juga mengasumsikan bahwa kekuasaan dan dominasi adalah bagian dari hubungan sosial yang mendalam dalam masyarakat. Kelompok-kelompok dominan sering kali menggunakan sistem sosial, politik, dan ekonomi untuk mempertahankan kekuasaan dan posisi mereka. Konflik muncul ketika kelompok yang terdominasi mulai menuntut perubahan dalam struktur yang ada, menantang status quo, dan memperjuangkan kesetaraan dan keadilan sosial.

8. Konflik Mendorong Penciptaan Struktur Baru

Asumsi lain adalah bahwa konflik tidak hanya menciptakan ketegangan, tetapi juga dapat menghasilkan struktur sosial yang lebih baik atau lebih adil. Meskipun konflik dapat menyebabkan ketidakstabilan dalam jangka pendek, dalam jangka panjang, hal ini dapat membawa perubahan yang mengarah pada struktur sosial yang lebih adil dan merata. Sebagai contoh, dalam revolusi sosial atau gerakan sosial, konflik antara kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan kelompok yang dominan dapat menghasilkan perubahan yang mengarah pada pembaruan kebijakan sosial, hak asasi manusia, dan pembagian kekayaan yang lebih adil.

Kesimpulan

Asumsi dasar dalam teori konflik dialektika menekankan bahwa konflik adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan sosial, yang muncul akibat ketidaksetaraan dan kontradiksi dalam masyarakat. Konflik sosial bukanlah hal yang harus dihindari, tetapi merupakan pendorong utama bagi perubahan dan perkembangan sosial. Proses dialektika antara kontradiksi-kontradiksi dalam struktur sosial menciptakan ketegangan yang akhirnya menghasilkan sintesis atau perubahan yang dapat menghasilkan struktur sosial yang baru dan lebih adil. Konflik ini berfungsi sebagai pendorong untuk mencapai transformasi sosial yang lebih baik.

Posting Komentar

0 Komentar