Pagi, 31 Desember 2025
Pada hari terakhir tahun 2025, semuanya berjalan dengan cara yang tak pernah saya duga sebelumnya. Sedang bersantap pagi sambil mengunjungi halaman Newsada, tiba-tiba muncul pemberitahuan. Jempol saya yang awalnya sibuk memegang gelas kopinya sempat berhenti sebentar. Matanya mulai menelusuri setiap kata: "Selamat! Anda telah memenuhi persyaratan untuk menjadi Kompasianer Terverifikasi (Centang Biru)!"
Aku memperbaiki bacaan. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Bukan berarti tidak percaya, tetapi karena waktunya terasa begitu... penuh makna. Pada pagi terakhir tahun 2025, seperti alam semesta sedang mengirimkan "nilai terbaik" sebelum halaman kalender bergeser. Saat beberapa orang masih tidur lelap atau baru mulai menyambut harinya, saya justru tengah mendapatkan hadiah yang sangat spesifik: pengakuan akan perjalanan tulisan yang sudah saya lalui.
Sepanjang hari tersebut, pikiranku tersiar ke mana-mana. Mulai dari pagi sampai malam menjelang perayaan tahun baru, pemberitahuan itu selalu bergemuruh dalam benakku. Bukan hanya sebuah pengakuan teknis—ini merupakan apresiasi terhadap kesetiaan, tekad, serta komitmen yang seringkali tak terlihat oleh mata biasa.
Perjalanan yang Tidak InstanTanda centang biru bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ini merupakan hasil kumpulan dari 139 artikel yang telah saya tulis, 20.736 kali pengunjung membuka konten tersebut, 277 komentar yang memberikan wawasan serta mendorong diskusi, serta 1.276 orang yang memutuskan untuk ikut dalam petualangan ini. Selain itu, sebanyak 53 artikel dipilih menjadi pilihan redaksi News, dan 20 tulisan saya sempat berada di bagian depan situs, lalu dibaca oleh ratusan orang.
Nomor-nomor ini tidak hanya angka biasa. Mereka menjadi bukti bahwa masih ada orang-orang di dunia luar yang melihat makna dalam kalimat-kalimat yang saya susun. Tiap-tiap artikel terpilih merupakan hasil pemilahan yang menyampaikan, "Esai ini pantas dibaca oleh lebih banyak pembaca." Setiap judul ialah peluang bagi karya saya bersuara lebih jelas di antara derasnya arus informasi digital.
Sebagai seorang tenaga pendidik, mulainya menulis di News dimulai dari hal yang sangat dasar: ingin berbagi. Berbagi cerita dalam proses pembelajaran, renungan terkait dunia edukasi, bahkan juga catatan harian kecil-kecil tentang aktivitas sehari-hari. Saya sama sekali tak pernah memprediksikan bahwa tulisan-tulisan biasa tersebut akan membuat saya dikenal sebagai Pemenang Platinum dalam Penghargaan Jurnalistik Warga Pegadaian Media Awards 2025, apalagi meraih akun verified di sebuah platform yang sudah menjadi tempat kedua bagi saya.
Tulisan tidak boleh ditujukan hanya untuk mendapatkan tanda biru, tetapi tulislah sampai platform merasa wajib memberimu tanda tersebut. Perhatikan mutu dan keseragaman, maka penghargaan akan datang secara alami.
Makna di Balik Nomor 53 dan 20
Saat saya memeriksa statistik profil saya, dua angka tersebut menarik perhatian: 53 artikel terpilih dan 20 judul berita. Bagi beberapa orang, mungkin hanya sekadar angka-angka biasa. Namun bagi saya, setiap angka memiliki kisahnya sendiri.
53 artikel terpilih berarti 53 kali tim editorial News membaca tulisan saya lalu berkata, "Ini layak diberikan perhatian lebih." Artinya sekitar 40% dari total 139 artikel yang telah saya buat dianggap memiliki mutu melebihi rata-rata. Bukan karena kemampuan menulis saya istimewa, tetapi karena saya selalu rajin mencoba menulis dengan tulus—menyentuh topik-topik yang saya anggap bernilai dan berguna bagi orang lain.
20 judul berita berarti 20 kali karya tulis saya dianggap pantas menghiasi halaman depan Newsdi. Tiap kali artikel saya menjadi judul utama, saya merasa memiliki tanggung jawab besar. Karena judul utama tidak hanya berkaitan dengan ketenaran, tetapi juga mencerminkan keyakinan platform bahwa isi yang saya tawarkan layak menjadi pengantar bagi ratusan pembaca.
Di belakang angka-angka tersebut, terdapat malam-malam di mana saya mengerjakan tulisan sampai larut setelah memeriksa tumpukan pekerjaan siswa. Terkadang, pagi-pagi sekali ide spontan muncul dan saya langsung mencatatnya agar tidak hilang. Ada tahap penelitian, membaca kembali, serta menyunting berulang kali sebelum pada akhirnya menekan tombol "Publikasikan".
Maka saat tanda cek biru muncul pada tanggal 31 Desember pagi hari, hal tersebut bukan sekadar tentang validasi akun. Itu merupakan sebuah pengakuan terhadap keseluruhan prosesnya. Bukti bahwa usaha yang dilakukan secara diam-diam ternyata tak pernah percuma.
1 Januari 2026: Kehidupan Baru, Tantangan BaruSaat saya mengakses aplikasi Newsdi pada pagi hari pertama tahun 2026, tanda biru tersebut sudah muncul di sebelah nama saya. Pemberitahuan yang masuk pada malam Tahun Baru tanggal 31 Desember akhirnya menjadi nyata pada hari pertama tahun ini. Terdapat perasaan yang bercampur: rasa bangga, pastinya, tetapi juga ada sedikit beban.
Tanda biru tidak hanya berupa simbol visual menarik. Dalam dunia digital yang kacau dan penuh informasi yang bertentangan, tanda pengesahan merupakan cap kepercayaan masyarakat. Ia menyampaikan pesan: "Akun ini asli. Isi konten bisa diakui tanggung jawabnya." Sebagai pendidik, saya merasakan bahwa tanggung jawab etis semakin meningkat.
Bukan sekadar untuk tampil atau membanggakan diri. Malah sebaliknya—ini jadi peringatan agar lebih waspada saat menulis, lebih cermat dalam menyampaikan informasi, dan lebih arif dalam pemilihan kalimat. Sebab kini, selain nama saya, telah tersedia "label" yang menyebut bahwa saya merupakan penulis yang diverifikasi. Artinya, tiap kata yang saya tulis harus dapat bertanggung jawab.
Pada masa informasi palsu dan penyebaran berita bohong, tanda ceklist biru menjadi alat kepercayaan yang bernilai tinggi. Ini bukan sekadar hak istimewa, melainkan sebuah kewajiban.
Terlebih lagi dengan 20 judul berita utama dan 53 artikel pilihan yang telah saya peroleh — standar yang harus saya pertahankan malah makin ketat. Tiap artikel baru bukan hanya karya pribadi, tetapi juga wakil dari akun resmi yang dianggap tepercaya oleh platform maupun para pembaca.
Arti bagi seorang guru penulis Kesempatan untuk menjadi guru yang juga menulis Tujuan dari seorang pendidik dan penulis Peran seorang pengajar yang memiliki kemampuan berliterasi Tantangan dalam menjalani dua peran sebagai guru dan penulis Nilai tambah seorang dosen yang aktif berkarya tulis Pengaruh positif dari aktivitas menulis pada profesi mengajar Keunikan seorang tenaga kependidikan yang mumpuni di bidang sastra Hambatan yang sering dialami oleh para pembelajaran yang gemar menulis Manfaat memadukan ilmu pedagogi dengan keterampilan menulisDi sekolah, saya kerap meminta siswa-siswa untuk melakukan penulisan. Jurnal harian, karya tulis singkat, atau bahkan hanya unggahan di medsos yang memiliki makna. Namun terkadang mereka bertanya, "Ibu, kenapa kita harus menulis? Kan nantinya tidak ada orang yang membacanya."
Sekarang saya memiliki jawaban yang lebih jelas.
Saya memperlihatkan screenshot profil Newssaya. Saya menceritakan bahwa tulisan-tulisan sederhana yang saya buat saat sedang mengajar justru telah dibaca lebih dari 20 ribu kali. Bahwa sebanyak 53 tulisan saya dipilih sebagai artikel unggulan, dan 20 darinya bahkan menjadi judul utama pada halaman depan. Bahwa terdapat para pembaca dari berbagai daerah yang meninggalkan komentar, berbagi pandangan, serta menyampaikan ucapan terima kasih karena tulisan saya berhasil memberikan semangat.
Mata para siswa bersinar. "Artinya karya kami dapat tersampaikan kepada banyak orang, Ibu?"
Boleh. Tapi kamu harus tetap konsisten dan menulis secara jujur.
Guru yang menghasilkan tulisan ialah guru yang senantiasa berusaha belajar. Tiap kali aku menulis sebuah artikel, aku selalu melakukan penelitian, membaca, dan memvalidasi informasi. Proses tersebut meningkatkan pemahamanku, yang akhirnya juga memberikan manfaat kepada siswa-siswaku di dalam kelas. Dan tanda ceklist biru ini merupakan bukti bahwa suara seorang tenaga pengajar—meskipun hanya datang dari kelas sempit di pojok desa—dapat terdengar di dunia maya yang jauh lebih besar.
Bukan Tujuan, Tetapi Titik Awal Bukan Lokasi Akhir, Melainkan Mulai Perjalanan Bukan Tempat Tujuan, Tapi Permulaan Jalan Bukan Sasaran Akhir, Namun Pintu Masuknya Bukan Arah Terakhir, Tapi Kondisi AwalJika seseorang bertanya, "Telah mendapatkan tanda biru, 53 artikel pilihanku, serta 20 judul utama, lalu apa lagi?" jawabanku mudah saja: tetaplah menulis.
Karena tanda biru bukanlah akhir dari perjalanan. Itu merupakan indikasi bahwa saya sedang berada di jalan yang tepat, namun tidak berarti saya telah mencapai tujuan. Masih terdapat banyak kisah yang harus dituliskan, banyak pengalaman yang ingin disampaikan, serta banyak percakapan yang perlu dikembangkan.
Kepada sesama pengguna Kompasiana – khususnya bagi yang mungkin sedang berusaha menjaga kekonsistenan dalam menulis – saya ingin menyampaikan sebuah hal: jangan pernah merasa bahwa tulisan Anda kurang bagus. Artikel pertama saya di News belum sepenuhnya sempurna. Bahkan saat membaca ulang sekarang, saya sering tertawa sendiri. Namun demikian, saya tetap mengunggahnya. Perlahan, melalui setiap artikel yang ditulis, saya semakin belajar untuk menulis dengan lebih baik.
Dari total 139 artikel, hanya 53 yang masuk dalam kategori artikel pilihan. Artinya ada banyak tulisan saya yang biasanya tidak istimewa. Namun apakah hal ini menghentikan saya? Tidak. Malah hal tersebut semakin mendorong saya untuk terus belajar, terus meningkatkan kemampuan, dan tetap berusaha.
Apakah tanda biru ada atau tidak, apakah artikelnya dipilih atau bukan, apakah judul utamanya muncul atau tidak — yang terpenting ialah Anda tetap melanjutkan menulis. Sebab di dunia ini, selalu ada seseorang yang memerlukan kalimat-kalimat yang Anda tuliskan.
Pada tahun 2026, awalnya hanya ditandai oleh cek list kecil di sebelah nama. Namun artinya sangat mendalam: komitmen untuk terus menyebarluaskan hal baik melalui kalimat-kalimat. Dan dalam setiap artikel yang akan saya buat berikutnya—baik sebagai artikel utama, judul berita, maupun sekadar tulisan biasa—saya akan menjalankan tanggung jawab tersebut dengan penuh rasa terima kasih.
Karena menulis tidak terkait dengan berapa banyak apresiasi yang kita peroleh, melainkan seberapa besar dampak positif yang kita tinggalkan.
Tahun baru 2026 telah tiba. Ayo tetap melanjutkan menulis, berbagi, serta memberikan semangat kepada orang lain.
0 Komentar