Mengapa Baby Carrot Terasa Berbeda Dari Wortel Biasa?

Ketika pergi belanja ke pasar, kamu mungkin melihat wortel dengan beragam ukuran, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Pada pasar tradisional, baby carrot atau bayi wortel mungkin belum umum ditemui. Namun, lain ceritanya ketika mengunjungi pasar swalayan, wortel ukuran kecil yang memiliki bentuk rapi dan sama dapat dengan mudah kamu jumpai di etalase-etalasenya.

Ya, bayi wortel memang sangat diminati karena bentuknya yang mungil dan mudah dibawa, sehingga sering dijadikan oleh-oleh atau camilan. Meskipun dikatakan baby carrot Wortel tersebut bukanlah wortel berukuran kecil, tetapi berasal dari wortel yang telah matang lalu dipotong-potong.

Dengan semakin tingginya permintaan, baby wortel saat ini bukan hanya dihasilkan melalui pengolahan. Baby wortel juga mulai dikembangkan secara spesifik guna memenuhi kebutuhan konsumen. Walaupun kedua jenis ini berasal dari tanaman yang sama, baby wortel dan wortel ukuran besar sering kali menunjukkan perbedaan dalam rasanya. Beberapa terasa lebih manis, sementara yang lain cenderung kurang manis.

Dikutip dari Verywell Fit Baby wortel yang ditanam secara normal biasanya memiliki rasanya agak lebih manis daripada wortel berukuran besar. Ini disebabkan oleh fakta bahwa baby wortel dipetik ketika masih muda, sehingga kandungan gulanya tetap terjaga. Perbedaan lain yang sangat menonjol adalah pada bagian tengahnya. Baby wortel memiliki pusat yang jauh lebih sempit dibandingkan dengan wortel biasa.

Sementara, menurut laporan Eating Well Untuk makanan bayi berbahan dasar wortel, biasanya memiliki kadar kemanisan yang lebih rendah, lantaran berasal dari wortel yang sudah lebih matang. Semakin tua umur wortel tersebut, semakin lambat gula alami di dalamnya berubah menjadi tepung, akibatnya rasanya jadi tidak terlalu manis. Di samping itu, tahap pembuangan kulit dan pembersihan sebelum dikemas juga bisa sedikit memengaruhi cita rasa maupun nilai gizinya.

Asal-usul baby carrot

Wortel bayi pertama kali diciptakan pada tahun 1980-an oleh seorang petani dari California yang bernama Mike Yurosek. Konsep ini lahir dengan tujuan untuk mengurangi pemborosan dalam produksi. Pada masa itu, banyak wortel yang dipanen tidak sesuai dengan kriteria penampilan pasar karena memiliki bentuk melengkung atau kurang menarik, meskipun rasanya tetap lezat dan kandungan gizinya baik. Jelas saja, wortel jenis ini susah mendapatkan perhatian konsumen.

Tidak mau sia-sia dengan wortel yang masih bisa dimakan, Yurosek mulai mengupas wortel-wortel itu, memotongnya menjadi panjang sekitar lima sentimeter, kemudian meruncingkan ujungnya hingga bulat. Dari sini baby carrot dilahirkan. Bentuknya mirip dengan wortel mini, namun pada dasarnya hanya bagian dari wortel yang ukurannya lebih besar.

Setelah diluncurkan ke pasaran, baby wortel cepat meraih respon baik dari masyarakat. Di akhir tahun 1980-an, penggunaan wortel mengalami peningkatan signifikan, terutama karena hadirnya baby wortel yang praktis serta siap disajikan. teksturnya renyah, cocok untuk dimakan segar atau diolah dalam beragam masakan. Baby wortel sering digunakan sebagai camilan bergizi maupun pendamping sajian utama.

Bayi ketimun dibersihkan menggunakan air klorin

Walaupun demikian, bayi wortel pernah mendapat kabar buruk. Muncul tuduhan di media sosial bahwa bayi wortel dicuci dengan pembersih atau bahan kimia beracun. Dilaporkan dari USA Today , seorang influencer kesehatan merekomendasikan kepada masyarakat untuk hanya memakan wortel utuh saja karena dianggap bahwa wortel bayi bisa berisiko merusak kesehatan.

Di dalam sebuah video di Facebook yang telah dilihat lebih dari 600 ribu orang sejak tanggal 23 Juli, penduduk California bernama Louis Smith mengaku bahwa produsen bayi Wortel mencuci sayuran tersebut menggunakan bahan kimia beracun agar bisa bertahan lama lebih lama. Dia juga menyebutkan bahwa baby wortel dicelup ke dalam "bud nip", istilah untuk insektisida chlorpropham.

Namun, pernyataan itu tidak disertai dengan bukti yang memadai. Berdasarkan informasi dari Grimmway Farms, salah satu penghasil wortel terbesar di Amerika Serikat, sayuran bayi biasanya dicuci dengan air klorin agar menghindari perkembangan bakteri. Metode ini dianggap aman dan sudah lama dipakai dalam sektor industri makanan.

Berdasarkan aturan pemerintah federal, zat klorprofam dilarang dipakai dalam penanganan wortel yang dijual di Amerika Serikat. Senyawa racun seperti bahan pemutih juga dilarang dimanfaatkan.

Di dalam video yang ia unggah, Smith juga mengkritik cara pengolahan bayi wortel serta menyatakan bahwa zat kimia dipakai agar umur simpan wortel bisa mencapai "tujuh hingga sembilan bulan". Merespons pernyataan ini, USA Today tidak ditemukan bukti bahwa bahan kimia beracun digunakan untuk maksud itu.

Linda Harris, dosen dari Universitas California, Davis, mengatakan bahwa usia simpan bayiwortel biasanya tidak lebih dari tiga sampai empat minggu ketika tersimpan dalam kulkas.

"Saya tidak tahu ada bahan kimia jenis tertentu yang dipakai dan mampu berfungsi dalam mengawetkan wortel," ujar Harris.

Harris bersama pakar-pakar lain menyatakan bahwa klorin adalah zat penyuci yang aman dan sering dipergunakan dalam proses pembersihan bayi wortel. Kebiasaan ini juga telah disahkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) beserta California Certified Organic Farmers, serta banyak diterapkan dalam sektor produksi wortel.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) serta Departemen Perlindungan Lingkungan AS (EPA) mensyaratkan para produsen makanan yang menjual produknya di pasaran AS agar hanya menggunakn bahan aditif, pestisida, dan zat pengolahan yang telah ditetapkan sebagai aman. Di samping itu, seluruh makanan yang dipasarkan di AS wajib mematuhi ketentuan keselamatan sesuai dengan UU Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Federal.

Sekarang, pemerintah hanya memperbolehkan penggunaan klorprofam dengan jumlah yang sedikit dalam produksi kentang, susu, serta beberapa jenis daging, seperti yang tertulis dalam Code of Federal Regulations. EPA menyatakan bahwa bahan kimia pembasmi hama ini tidak boleh dipakai pada makanan lainnya.

Posting Komentar

0 Komentar